Mereka Anak UI Juga Seperti Soe Hok Gie dan Hariman Siregar

(Last Updated On: 07/02/2018)
Telegrafi – Zaadit Taqwa dibesarkan medsos, narsisme dan kapitalisme. Ia ingin meniru tradisi kritis dari kakak kelasnya seperti Hariman Siregar atau Soe Hok Gie.

Sebetulnya saya pikir gak fair juga menghakimi “anak kecil” yang baru belajar caper (cari perhatian), lalu membesar-besarkannya sebagai masalah nasional. Sependek ingatan saya, sebagai sesama alumnus UI bukankah sepanjang sejarah universitas tertua di Indonesia ini memang selalu muncul “para sinistik” seperti itu?

Lepas dari apa ideologi-nya, lepas dari ketulusan (sekaligus ke-ngehek-annya), lepas dari itu inisiatif pribadi, kelompok, atau sekedar bayaran. Selalu saja ada anomali dalam gerakan ke-mahasiswa-an.

Dari dulu pun, saya pikir persentase anak yang memiliki sikap kecenderungan seperti itu tidak pernah banyak. Sangat sedikt malah. Bahkan dibanding anak Unas (Universitas Nasional), konon anak UI sama sekali tidak memiliki kecenderungan radikal. Anak UI lebih menikmati mantra-nya sendiri: “Pesta, Buku dan Cinta”.

Mereka bisa saja berasal dari tiga mahzab yang berbeda, apakah ia anak cafe (golongan jet set itu), anak mushola (anak yang punya kecenderungan agamis), atau anak balsem (anak-anak yang cenderung kritis, merakyat tapi kumal. Hehehe). Saya gak tahu, apa namanya di fakultas lain, tapi demikianlah di FISIP ia disebut.

Balsem itu akronim Di Balik Semak, tempat makan dan nongkrong yang memang ada di balik semak-semak. Sekarang konon sudah hilang, berganti warung makan “kapitalis” yang harus bayar dulu, baru disediakan makan-minum yang dipesan. Menghilangkan tradisi ngutang yang dulu sedemikian kental bagi anak-anak proletar.

Dengan “Balsem” inilah yang saya pikir UI masih punya sentuhan kerakyatan, sehingga masih ada pantas-pantasnya disebut “Kampus Rakyat”. Namun sejak lembaga pendidikan tinggi negeri diubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), maka biaya kuliah menjadi tidak masuk akal lagi bagi “rakyat”.

Memang masih disediakan beasiswa ini-itu, tapi sentuhan humanisme dalam pendidikan mulai hilang. Mahasiswa harus punya orang tua yang lebih dari cukup, untuk menjamin anak-anak bisa sampai ke garis finish wisuda.

Dulu, hal seperti tidak diperlukan, cukup hubungan baik dengan bagian administrasi saja, menjamin kita tetap bisa jadi sarjana. Saya salah satu contohnya. Dalam kelindan, hubungan pendidikan yang bernaluri bisnis, seperti iniah “anak-anak baru gede” seperti Zaadit Taqwa ini sekarang kuliah. Anak UI yang dibesarkan oleh sosial media, narsisme, dan melulu kapitalisme.

Mula-mula ia ingin meniru tradisi kritis, dari kakak kelasnya seperti Hariman Siregar saat menggerakkan Malari, atau yang lebih idealis tapi berjalan sunyi seperti Soe Hok Gie. Atau yang lebih dekat ingin meniru Rama Pratama yang menggerakkan Orde Reformasi tetapi ujungnya menjadi tokoh yang malah dianggap mengkhinati apa yang diperjuangkannya dulu.

Persamaan antara Rama dan Zaadit ini adalah keduanya terafilasi dalam wadah bernama Partai Keadilan Sejahtera.

Dan di atas itu semua, jangan lupa Duo-Srigala yang sekarang ndilalah menjadi Duet Maut Wakil Ketua DPR. Walau berasal dari dua partai yang berbeda, sekalipun salah satunya sekarang sebatas pecatan. Zaadit ini punya mentor dan panutan yang luar biasa. Sebut saja keduanya FZ dan FH, keduanya ini punya peran yang luar biasa unik dalam Gerakan 1998. Berseberangan tapi saling menunggangi.

FZ adalah operator PS untuk menggerakan kaum proletar kota melakukan kerusuhan besar di Jakarta. Konon ia dibekali uang 900 juta, walau kemudian semua tidak tersalurkan hingga ia sempat nyonyor digebuki PS. Sedang FH adalah (konon) tokoh gerakan mahasiswa yang menjadi pendemo menuntut Soeharto turun, karena dianggap tidak bisa mengendalikan keadaan.

Entah bagaimana titik “slip”, keplesetnya, Gerakan PS ini gagal total, ia dikucilkan keluarga Cendana, dianggap pengkhianat, dicopot pangkatnya, dan sempat terusir keluar. Anehnya tanpa rasa malu, keduanya saat ini muncul kembali sebagai “seorang hero”, orang yang merasa dirinya paling nasionalis.

Masyarakat Indonesia dianggap semua lupa bahwa duet inilah yang sempat bikin remuk negara beberapa saat lamanya. Dan bahkannya lagi, PS menjadi “Capres Abadi” yang selalu gagal diwisuda. Dalam lingkaran keruwetan dan absurditas politik inilah Zaadit tumbuh sebagai anak yang belajar politik tanpa navigasi sejarah yang jernih, lurus, dan benar.

FZ, FH, RP, ESF, dan kemudian Zaadit ini, bagaimanapun adalah anak UI juga. Ia melengkapi sisi lain muka mata uang, ia batu timbangan di sisi sebelah. Ia sebenarnya melengkapi juga anak-anak UI yang sekarang masih atau yang lalu pernah juga menjadi pejabat negara. Ia menjadi penyeimbang antara pendukung Jokowi, dan sebaliknya ia sebagai pembencinya.

Di mana juga harus dipahami: bagi kita pendukungnya, kita dianggap “penjilat” oleh mereka. Sebaliknya bagi mereka pembenci-nya, mereka mendaku memiliki daya kritis tiada tara. Apalagi konon sekarang UI memiliki motto baru dalam bahasa Latin, yaitu: Veritas, Probitas, Iustitia. Yang artinya: Kebenaran, Kejujuran, Keadilan.

Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo. Photo : File/Dok/Ist. Photo

Komen Untuk Tanggapi Artikel