Ketika Orang Berebut Kekuasaan

(Last Updated On: 01/03/2018)

Telegrafi – Tahapan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 telah memasuki masa kampanye. Semua pasangan calon memanfaatkan waktu kampanye secara maksimal. Mereka semakin rajin menyapa rakyat. Mereka juga rajin melakukan survei untuk mengetahui popularitas dan elektabilitas hingga hari pencoblosan. Dengan intensif mereka mendekati calon pemilih. Mereka tidak segan turun langsung di tengah-tengah masyarakat.

Pada era politik pencitraan ini para calon juga bekerja sama dengan media. Melalui media, mereka berusaha untuk menyampaikan visi dan misi. Mereka juga memasang baliho di sejumlah tempat strategis. Meski terasa sangat mengganggu pemandangan kota, mereka seakan tidak peduli. Jurus tebar pesona sebagai investasi politik terus digalakkan. Sejumlah calon juga dibantu tim sukses. Bukan hanya tim sukses yang disiapkan.

Semua kebutuhan logistik dan finansial juga diperhitungkan secara cermat. Dalam pesta demokrasi langsung persoalan ‘gizi’ menjadi variabel yang penting. Secara berseloroh seorang teman menyatakan : “Dalam berpolitik Anda boleh memiliki integritas, popularitas, dan elektabilitas. Tetapi jika tidak memiliki ‘Isi Tas’, Anda pasti akan tergusur”. Meski sekadar gurauan, realitas menunjukkan bahwa proses politik pada era demokrasi langsung memang berbiaya tinggi.

Hasrat Berkuasa

Pertanyaannya, mengapa hasrat seseorang untuk berkuasa begitu besar? Bahkan dalam proses meraih kekuasaan setiap orang harus mengeluarkan energi dan modal yang fantastis?

Untuk menjawab pertanyaan itu ada baiknya kita renungkan kisah pengusiran Nabi Adam dan Hawa dari surga. Mengapa keduanya terusir dari surga? Jawabnya, karena mereka tergoda bujuk rayu setan. Sejak lama setan memendam kedengkian pada Adam. Setan pun berusaha mencari jalan untuk menggelincirkan Adam.

Setan lantas menemukan cara dengan merayu agar Adam dan Hawa makan buah dari syajarah al-khuldi (pohon keabadian). Menurut bisikan jahat setan, jika Adam dan Hawa mau makan buah khuldi, maka keduanya akan merasakan kenikmatan surga dalam waktu yang sangat lama. Keduanya juga memperoleh kekuasaan yang tidak pernah binasa. Singkat kisah, Adam dan Hawa akhirnya tergoda bujuk rayu setan. Keduanya memakan buah keabadian. Akibatnya, keduanya harus menerima kenyataan terusir dari surga (QS. Thaha: 120-121).

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari kisah pengusiran Adam dan Hawa? Setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat diambil. Pertama, umumnya manusia sangat mudah tergoda kekuasaan yang dipersepsi dapat membawa kenikmatan hidup di dunia secara instan. Orang yang memiliki syahwat politik tinggi pasti akan selalu berpikir untuk menikmati kekuasaan di dunia ini dalam waktu yang sangat lama.

Kedua, selalu ada kecenderungan penguasa mempertahankan kekuasaannya. Hal itu karena untuk memperoleh kekuasaan, seseorang harus berjuang hingga titik keringat terakhir. Jika karena perundang-undangan kekuasaan harus berpindah tangan, maka selalu diusahakan agar kekuasaan jatuh pada istri, anak, menantu, kerabat, dan teman dekatnya. Selain bertujuan agar kekuasaan tidak berpindah tangan, strategi mencalonkan orang-orang terdekat dalam pemilu untuk menjamin dirinya selamat dari persoalan hukum pasca tidak berkuasa.

Jelas tidak ada larangan bagi seseorang untuk memperebutkan kekuasaan. Tetapi penting diingatkan agar mereka yang running dalam pilkada berhati-hati dengan bujuk rayu kekuasaan. Pesan ini penting. Meminjam istilah Profesor Jimly Asshiddiqie, semua jabatan publik yang dikompetisikan secara bebas dan terbuka cenderung digunakan sebagai ajang mencari kekuasaan.

Ironis. Jabatan-jabatan publik seringkali digunakan sebagai ajang mencari pekerjaan. Pernyataan ini penting dikemukakan dalam konteks semakin banyaknya pejabat publik di lingkungan eksekutif, legislatif dan judikatif, yang terlibat kasus korupsi, suap dan asusila, hingga harus berurusan dengan aparat. Keterlibatan ini jelas, pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

Karena itu, substansi pernyataan Profesor Jimly layak menjadi peringatan bagi mereka yang sedang berjuang meraih kekuasaan. Penting menjadi renungan, bagi mereka yang sedang antre di bawah pohon khuldi, agar dalam berjuang meraih kekuasaan tetap menunjukkan keteladanam pada rakyat. Kekuasaan yang diraih secara terhormat dan bermartabat pasti melahirkan pemimpin dan pejabat publik berintegritas.


Oleh : Dr Biyanto. Dosen UIN Sunan Ampel dan Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur. Photo : Reuters/Beawiharta

Komen Untuk Tanggapi Artikel