Perkembangan teknologi yang semakin cepat banyak membantu kehidupan manusia. Salah satunya adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang kini dipakai mahasiswa untuk mencari informasi, membuat rangkuman, menerjemahkan, mencari ide, bahkan mengerjakan tugas. Menurut saya, penggunaan AI memiliki sisi positif dan negatif. AI sangat membantu jika digunakan dengan baik, tetapi berdampak buruk jika mahasiswa terlalu bergantung padanya. Karena itu, mahasiswa harus menggunakan AI dengan bijak dan tetap mengandalkan kemampuan berpikirnya sendiri.
Membantu memahami materi dan mencari ide
Tidak semua materi dari dosen dapat langsung dipahami. Dalam kondisi itu, AI dapat menjelaskan materi dengan bahasa yang lebih mudah dan memberikan contoh agar konsep yang sulit menjadi jelas. AI juga membantu mahasiswa yang belum tahu apa yang harus dibahas dalam makalah, memperbaiki kalimat, menerjemahkan, dan merangkum materi yang panjang sehingga menghemat waktu.
Bahaya ketergantungan
Namun, penggunaan AI secara berlebihan berdampak negatif. Banyak mahasiswa langsung meminta jawaban kepada AI, lalu menyalinnya tanpa membaca atau memahami isinya. Cara ini memang cepat, tetapi merugikan. Mahasiswa mungkin mendapat nilai, tetapi belum tentu memperoleh pengetahuan yang sebenarnya, sebab kemampuan mencari informasi, memahami masalah, menyampaikan pendapat, dan menyimpulkan harus dilatih sendiri.
Jawaban AI tidak selalu benar
AI dapat memberikan informasi yang salah atau kurang sesuai dengan keadaan. Karena itu, jawabannya perlu diperiksa kembali melalui buku, jurnal, atau sumber resmi lain. Mahasiswa harus mampu membedakan informasi yang benar dan yang salah.
Soal kejujuran akademik
Jika AI hanya dipakai untuk membantu memahami materi, penggunaannya masih bermanfaat. Namun, meminta AI mengerjakan seluruh tugas lalu mengakuinya sebagai hasil pemikiran sendiri adalah tindakan yang tidak terpuji. Mahasiswa tetap bertanggung jawab atas tugas yang dikumpulkan.
AI sebagai alat bantu
AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti mahasiswa. Misalnya, gunakan AI untuk mencari ide, lalu baca sumber lain, pahami materinya, dan tulis kembali dengan bahasa sendiri. Dosen pun berperan penting: tidak sekadar melarang, tetapi juga memberikan pemahaman bahwa teknologi boleh dipakai untuk membantu belajar, bukan untuk berbuat curang.
AI sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar, tetapi penggunaan yang berlebihan membuat mahasiswa malas berpikir dan terlalu bergantung pada teknologi. Mahasiswa yang baik bukanlah mereka yang tidak menggunakan AI, melainkan yang mampu menggunakannya tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Teknologi akan terus berkembang sehingga yang terpenting bukanlah menghindari AI, melainkan belajar menggunakannya dengan benar agar belajar menjadi lebih mudah, nalar lebih kritis, dan kita lebih siap menghadapi perkembangan zaman.
“Gunakan AI untuk belajar, bukan untuk berhenti belajar.”
Oleh: Reginald Fairuz Al Rasyid, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

