Connect with us

TELEGRAFI

Membangun Distrik Kreatif

Populasi Indonesia yang besar dan permintaan domestik yang kuat berkontribusi pada prospek pertumbuhannya industri kreatif. REUTERS

Telegrafi – Di kala Pandemi Covid-19 pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat menyebabkan ancaman resesi yang nyata bagi Indonesia. Kebijakan Pemerintah di berbagai sektor perlu ditinjau kembali manfaatnya bagi masyarakat baik dari sisi perkembangan ekonomi regional, pengurangan angka kemiskinan hingga penyerapan tenaga kerja. Pemerintah saat ini berupaya melakukan pergeseran (shifting) dari ekonomi berbasis sunber daya alam ke ekonomi berbasis sumber daya manusia (SDM) antara lain melalui pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Sektor tersebut diharapkan menjadi tulang punggung perekonomian nasional di masa depan.

Salah satu rencana besar Pemerintah adalah melakukan pembangunan distrik kreatif. Distrik tersebut diberi nama Bekraf Creative District atau Be Creative District (BCD). Pembangunan BCD diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional dari sektor ekonomi kreatif berdasarkan sub sektor yang dibangun di distrik tersebut.

Pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 18 tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 17 Januari 2020. Pemerintah telah memasukkan BCD dalam Daftar Proyek Prioritas Strategis (Major Project) RPJMN 2020-2024. Lokasi BCD direncanakan di Maja, Rangkasbitung, dan Karawang.

Dukungan dari APBN terhadap BCD direncanakan sebesar Rp10,2 triliun berasal dari Kementerian/Lembaga seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Diharapkan BCD dapat menarik investasi sebesar Rp 90 triliun. Munculnya BCD diproyeksi akan menciptakan 2 juta lapangan kerja di bidang ekonomi kreatif.

Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan BCD adalah menarik investasi dari swasta maupun BUMN sebesar Rp 90 Triliun. Ada 3 lokasi yang dipilih oleh Pemerintah sebagai calon lokasi BCD yaitu Maja, Rangkasbitung dan Karawang. Pemilihan ketiga lokasi tersebut dapat dilihat sebagai upaya pengembangan kota baru di wilayah sekitar Jakarta. Hingga saat pembangunan wilayah Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) sudah cukup agresif sehingga lahan yang masih tersedia sangat terbatas. Daya dukung lingkungan di Jabodetabek juga sudah cukup kritis saat ini.

Pemilihan Maja, Rangkasbitung dan Karawang diarahkan pada rencana pengembangan kota baru. BCD diharapkan dapat berkembang di ketiga lokasi tersebut seiring dengan pembangunannya di masa mendatang. Salah satu calon lokasi BCD yaitu Maja mulai dilirik oleh investor sebagai kawasan pemukiman baru. Salah satunya PT Hanson International Tbk (MYRX) yang bekerja sama dengan Ciputra Group dengan proyek Citra Maja Raya.

Proyek tersebut bertumpu pada stasiun kereta Maja untuk transportasi penghuni. Demikian pula dengan Rangkasbitung. Wilayah tersebut sebagaimana halnya Maja juga bertumpu pada akses transportasi stasiun kereta yang ada. Pengembangan Maja dan Rangkasbitung merupakan perluasan dari wilayah Serpong yang saat ini berkembang pesat dan menjadi kawasan pemukiman baru seperti Bumi Serpong Damai (BSD), Gading Serpong dan lainnya.

Pemilihan lokasi BCD yang ditetapkan di ketiga lokasi perlu ditinjau lebih lanjut melalui studi kelayakan di masing-masing daerah tersebut. Studi kelayakan harus berpijak pada prinsip pembangunan berkelanjutan dengan aspek aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Tanpa studi kelayakan yang cermat akan terjadi kegagalan dalam implementasi BCD tersebut.

Terlebih salah satu lokasi yang dipilih adalah Karawang, Jawa Barat yang merupakan lumbung padi nasional. BCD dapat mengganggu stabilitas pangan nasional apabila dipaksakan dibangun di lokasi tersebut tanpa studi kelayakan yang cermat dan menyeluruh.

Pembangunan dan pengembangan distrik kreatif di berbagai negara dapat menjadi contoh yang bagus bagi Indonesia. Beberapa contoh keberhasilan pembangunan distrik kreatif seperti Korea Selatan dan China dapat menjadi pelajaran yang berharga.

Korea Selatan membangun Dongdaemun Design Plaza (DDP) di Seoul sebagai pusat budaya dan pusat distrik paling bersejarah di Seoul. Mega infrastruktur tersebut dibangun sebagai dedikasi bagi pengembangan desain dan industri kreatif. DDP memiliki luas 86.574 m² dan terdiri dari Museum Desain, Balai Seni, Laboratorium Desain hingga perpustakaan dan fasilitas pendidikan. DDP dirancang oleh Zaha Hadid, seorang arsitek terkenal kelas dunia kelahiran Irak.

DDP menyebabkan Seoul tumbuh pesat tidak hanya sebagai ibu kota Korea Selatan namun menjadi jantung kancah desain nasional dengan 73 persen desainer Korea terkonsentrasi di kota ini. Di dalam 5 tahun terakhir, lebih dari 170.000 pekerjaan telah dihasilkan dalam industri desain tersebut. Seoul berkembang menjadi rumah bagi ribuan spesialis periklanan, arsitek, perancang game dan pengembang konten digital (www.unesco.org).

Demikian pula yang dilakukan oleh China dalam pengembangan distrik kreatif untuk industri animasi. Beberapa tahun terakhir Cina telah menjadi produsen utama produk animasi dunia. Pemerintah China memberikan dukungan baik finansial maupun non finansial termasuk kemudahan layanan perijinan. Hal tersebut mendorong munculnya berbagai kawasan industri animasi baru di China seperti Beijing, Shanghai, dan Tanjin. Berbagai perusahaan yang bergerak di industri animasi berkembang pesat. Sejak Oktober 2006, China mampu menciptakan lapangan kerja kreatif baru dengan lahirnya 5.473 studio animasi, 477 departemen animasi dan 1.230 universitas yang menawarkan studi tentang animasi (Xiang: 2006).

Indonesia dapat mempelajari secara cermat pengalaman Korea maupun China dalam mengembangkan distrik kreatif. Pemerintah harus belajar dari pengalaman sebelumnya dalam mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan dengan batasan tertentu yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategis wilayah dengan fasilitas dan insentif khusus yang diberikan untuk mendorong pertumbuhan bisnis (kek.go.id). KEK dibagi menjadi 2 bagian yaitu KEK industri dan KEK pariwisata.

Hingga saat ini hanya sedikit KEK yang dapat beroperasi. Masalah yang terjadi pada sebagian besar KEK adalah ketiadaan investasi. Hal ini disebabkan karena ketidaktertarikan investor. Kekeliruan pemilihan lokasi, kesalahan analisis, studi kelayakan yang serampangan hingga kepentingan politik menjadi penyebab kegagalan KEK menarik investasi.

Sudah cukup banyak pelajaran yang dapat dipetik dari berbagai kasus tersebut. Pemilihan lokasi dan subsektor ekonomi kreatif melalui studi kelayakan yang cermat juga akan mempengaruhi kesuksesan distrik kreatif. Jangan sampai distrik kreatif hanya akan menyusul kegagalan yang dialami sebagian besar KEK.


Oleh: Andre Notohamijoyo Pemerhati Pembangunan Nasional, Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia

 

Advertisement
7 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

close