Connect with us

TELERASI

Namaku Puisi


Namaku Puisi. Entah mengapa aku diberi nama Puisi. Aku tak tahu banyak soal pemberian nama itu. Ayahku hanya bilang bahwa dia memberiku nama Puisi, lantaran kegilaannya. Kegilaan sama apa aku tidak tahu. Kegilaan sama puisi? Mungkin. Tapi, entahlah. Walaupun namaku Puisi, tapi ayah selalu memanggilku Anak Senja.


Hampir satu minggu ayah kebingungan. Tindak-tanduknya seperti orang linglung. Di saat senja, ia selalu duduk di kursi taman kota di bilangan selatan Jakarta. Rambutnya gondrong riap-riapan dan hanya dengan jari ia merapikan rambutnya. Ya, itulah ayahku. Ayah kandungku? Tentu tidak!

Ayah menemukanku masih dalam bedongan yang rapi terbungkus kain lembut, tebal, dan hangat motif bunga-bunga. Mungkin ibu kandungku yang menaruhnya. Mungkin ayah kandungku yang membuangnya. Mungkin penculik yang tak mau ambil resiko. Mungkin juga…ah, entahlah. Siapa yang membuangku saat itu. Aku hanya menangis dan tak ada siapa-siapa. Suasana sepi dan remang.

Saat itu, ayahku baru saja pulang dari kantornya, sebuah media surat kabar. Dengan tas kamera yang nemplok di punggungnya, ia melaju dengan sepeda motornya. Entah kenapa hari itu ia parkirkan sepeda motornya di pusat perbelanjaan yang tak jauh dari taman kota. Ia pun memilih berjalan. Ya, jalan ke taman kota, tempat biasa ia melepas lelah dan menggenapkan kegelisahannya. Ia berjalan santai seirama dengan puluhan pejalan kaki dan lalu-lalang kendaraan.

Dalam kekosongannya, Ayah memilih jalan pintas, berbelok ke arah tempat pembuangan sampah. Lengang. Jalan itu terlihat kosong. Tak lama, bau sampah mulai menyengat. Angin yang menyebarkan aroma kurang sedap itu. Di sepi dan sendiri.

Di senja itulah sejarahku punya ayah dan karena ‘di senja itulah’ aku dipanggil Anak Senja.
Ayah mendengar tangisanku. Mungkin saat itu juga Tuhan mengirimkan utusannya, penyelamatku. Tuhan pulalah yang memilihnya menjadi malaikatku. Malaikat lucu, gondrong, nyentrik, tapi baik hati. Ah, ayah, aku menyayangimu, aku mencintaimu, aku selalu merindukanmu.

Ayah berhenti sebentar dan melihat ke arahku. Ia terkejut melihat seorang bayi tergolek di samping bak sampah. Entah apa yang ada dalam hati dan perasaannya saat itu. Mungkin dia panik, bingung, gembira, sedih atau entahlah. Ia memungutku. Ia mencermati wajahku. “Ini anak siapa?” ucapnya pelan, nyaris berbisik. Ia melihat sekeliling. Tapi tetap sepi, temaram, dan bau.

“Ya, mungkin inilah cara Tuhan mengirim puisi untukku. Puisi yang membuatku seperti orang lingling hampir seminggu ini. Tuhan Maha Indah, Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang, dan Tuhan Maha Pemberi. Ia kirim puisi yang sebenar-benarnya puisi untukku. Ya, kamulah anakku, kamu puisi itu,” ucap ayahku mengisahkan masa laluku.

Itulah mula kisahku. Tentang nama Puisi dan panggilan Anak Senja buatku. Ayahku yang memberikan nama dan panggilan itu. Ayah kandungku? Tentu tidak.

Ayahku adalah lelaki hebat. Selain ayah, ia menjadi ibu buatku. Aku mengenal ayah dan ibu dari sosoknya. Lelaki berambut gondrong riap-riapan dan hanya menyisir dengan jari-jari tangannya. Ia merawatku, memandikanku, menyuapiku, dan mengajakku bermain. Tak lupa, ini yang tak dimiliki oleh ayah-ayah yang lain. Ayah meninabobokanku dengan puisi-puisinya.

Aku mendengar cerita Pranacitra-Rara Mendut dari puisinya. Aku mendengar Majapahit dari puisinya. Aku tahu Prancis, Belanda, Jepang, dan Cina dari puisinya. Aku selalu dibacakan puisi tentang Carl Marx, Soekarno, Tan Malaka, Jalaludin Rumi, Rabiah al Adawiyah, Ibnu Sina, Foucault, Derida, Sigmund Freud, Ferdinand de Saussure, Mahatma Gandhi, Einstein, dan banyak lagi dari puisi-puisinya.
Ada satu puisi yang selalu aku ingat; Soekarno. Ayah memetik kalimat Soekarno dalam puisinya, yang salah satunya… “beri aku aku 10 pemuda, akan aku ubah dunia…” Hebat! Keren!

Itulah Ayahku. Lelaki hebat yang aku kenal. Ayah kandungku. Tentu tidak. Bahkan dia lebih dari sekedar ayah kandung. Dia tidak lagi sekedar ayah, tapi sahabat, kakak, dan kekasihku. Ya, kekasihku!

Pagi mengajakku bangun kali ini. Cahaya yang menerobos kisi-kisi jendela seperti tepukan tangan suci bunda di tubuhku. Ah, aneh rasanya aku menyebut nama bunda. Sungguh, meskipun aku ingin seperti sahabat-sahabatku memiliki banyak sebutan untuk seseorang yang melahirkannya. Ibu, mama, mami, bunda, mbok, emak, nyak, umi, dan banyak lagi sebutan itu. Tapi aku? Ah, ibu bagiku adalah seorang lelaki berambut gondrong yang memberiku nama puisi dan memanggilku Anak Senja.

Banyak sahabatku yang menanyakan kenapa namaku hanya Puisi. Kok tidak ada tambahan lainnya, semisal Diah Puisi, Mentari Puisi, atau Laskar Puisi. Tidak! Ya hanya puisi. Itu saja.

Pernah suatu ketika aku tanyakan ke ayahku, kenapa namaku hanya puisi. Kok tidak ada nama lain di depan ada di belakangnya. Ayahku hanya diam dan melihatku. Di tersenyum.

“Tak ada yang mampu mendampingi keindahan nama puisi,” ucapnya. “Suatu saat kamu akan mengerti, kenapa namamu puisi. Dan, tidak ada nama lain yang mendampingi di depan atau di belakangnya.”
Puisi adalah jiwa. Puisi adalah kebebasan. Puisi adalah keindahan. Puisi adalah pemberontakan. Puisi adalah aku, kamu, dia, mereka, dan siapa saja. Puisi adalah kehidupan. Begitulah aku dan nama puisi buatmu.
“Trus kenapa Ayah memanggilku Anak Senja?” tanyaku.
Ayah kembali hanya tersenyum.

“Karena senja itulah ibu kandungmu. Senja itulah yang melahirkanmu. Senja itulah yang mempertemukan kita. Senja itu pulalah yang menjadikanku seorang ayah. Ya, ayahmu ini.”

Senja rubuh di ufuk barat. Di sebuah apartemen di tepian Jakarta, aku duduk menikmatinya. Bersama ayah? Tentu. Ah, tidak. Kali ini ia menjadi kekasihku. Ya, kekasihku.

Di senja itu, ayah mengajariku untuk memiliki banyak cinta dan aku harus menyemestakan rasa. Pada sahabat, pada gunung, pada laut, pada udara, pada tanah, dan juga pada Tuhan. Aku harus memiliki banyak cinta untuk semua, aku harus memiliki banyak cinta untuk sesama. Tak terkecuali untuk ayahku, lelaki yang selalu mengajariku bagaimana menyiasati hidup. Nyaris aku hanya mengenal ayah, lelaki yang selalu menjadi inspirasiku. Lelaki yang memberiku banyak kenangan, kecupan, ciuman, pelukan, dan dekap.

Delapan belas tahun sudah aku bersamanya. Sedih, bahagia, suka, duka, dan segala rasa aku telah menikmatinya. Hujatan, pujian, dan segala omongan aku sudah mengenyamnya. Sakit? Bangga? Entahlah. Semuanya ada, semuanya tiada.

“Mencintai membutuhkan kesabaran, Nak,” ucap ayahku saat itu. Aku tak mengerti apa yang dimaksudkan ayahku. Yang aku tahu, mencintai adalah kesakitan-kesakitan yang tak ada ujungnya. Rasa bahagia yang menjadi pupuk untuk memanen kesakitan nantinya. Itu yang aku pahami makna mencintai.

“Mencintai juga keikhlasan, Nak,” lanjut ayahku. Aku setuju dengan ayah kali ini. Ketika cinta sudah diembel-embeli dengan sekian ribu kepentingan, sekian juta keinginan, dan pemaksaannya maka cinta bagiku hanyalah nilai egoisme yang nanti pasti akan saling berbenturan. Seperti besi yang ditempa. Jika besi tak mau di bakar api, maka besi tak akan menjadi apa-apa. Hanya bising dan berantakan. Namun, ketika besi mau dilunakkan api, maka ia akan menjadi indah meskipun menakutkan. Seperti sebuah keris yang ayah pajang di ruang kamar.

Ah, sudahlah. Mencintai memang sebuah keanehan yang aku sendiri tak pernah mampu untuk mengurainya. Tak pernah selesai untuk mendalaminya.
Malam telah turun. Lampu sepanjang jalan sudah menyala. Ramai sesak kendaraan sudah panjang di bawah.

***

Namaku Puisi. Anak Senja, ayah memanggilku.

And who can say if your love grows,
As your heart chose?
Only time…
(Only Time – Enya)

Mungkin inilah kenyataan abu-abu.

Cinta datang tak mengenal waktu. Tidak hanya waktu, bahkan juga tempat, kondisi, atau apapun itu. Dia datang tanpa uluk salam. Di datang tak mengenal warna perasaan kita. Merahkah? Kuningkah? Birukah? Hijaukan? Atau hitam? Dia datang begitu saja. Kita tiba-tiba terkapar dan kalah.

Sudah 3 kali putaran lagu “Only Time” yang dinyanyikan Enya menggedor-gedor pikiran dan hatiku. Ah, ini terlalu naif untuk aku singkirkan. Tapi, kenapa harus dia. Ini pertanyaan besarku. Kenapa aku harus ada dalam posisi yang seperti ini. “Ayah, salahkah aku mencintaimu?”

***

“Anak… Anak Senja… Bangun!” panggilan Ayah membangunkanku.

Aku malas membuka mata. Aku bahkan makin erat memeluk guling untuk kembali menemukan kenyamanan. Mataku terlalu berat untuk dibuka. Tubuhku masih terasa lemas. Aku tak ingin kenyamananku terusik.

“Anak, bangunlah,” ucap ayah sembari mendaratkan kecupan hangat di keningku. Aku mengerjab-kerjapkan mata.
“Ayaaah…” rengekku manja. Aku lingkarkan tanganku ke leher ayah. Aku tarik ke dalam dekapan dadaku. Sebuah ciuman hangat dariku mengecup keningnya. Entah, kondisi ini yang sangat aku suka dan rindukan. Saat-saat pagi, ketika ayah membangunkanku. Aku merasakan hidup melebihi dari segala masalah hidup.

“Yah, aku hamil,” ucapku pelan dan terbata-bata.

Sesaat ayahku terdiam. DI tergeletak di sampingku. Tak lama dia bangkit Duduk persis di sampingku. Dahinya mengernyit. Namun tak lama, terlihat rona wajah kegembiraan dari wajahnya dan binar bangga menyemburat di bola matanya. Sebuah kecupan hangat kembali mendarat di keningku. Ciuman hangat menyentuh bibirku. Inilah buah dari percintaanku dan ayahku. Tentu, nantinya akan lahir Anak Puisi. Aku akan menjaganya, aku akan merawatnya, seperti ayah menjaga dan merawatku. Dia anakku, anak dan cucu ayahku.

***

Anakku adalah anak dan cucu ayahku. Anak Puisi. Yang lahir dari rahim kata-kata. Percintaanku dengan ayah tercipta di tengah malam yang khusuk. Dzikir angin dan tarian daun telah mengantarku pada puncak ekstase yang luar biasa. Dalam percintaan, aku telanjang kata, liarnya imaji memompa jantungku berdetak lebih cepat. Melebihi detak putaran waktu. Peluh berjalan melintas di setiap tubuku dan tubuh ayahku yang sudah penuh dengan gelimang aksara.

Gelora aku dan ayahku berlahan-lahan terus meniti satu-persatu kehangatan kalimat, menurunkan makna pada simbol-simbol yang kubangun. Mencengkeram erat di punggung baris, menari erotis di sepanjang bait. Percintaanku dengan ayah telah melahirkan kebinalan pikiran dan rasa yang tak berkesudahan. Kenangan indah lahir di setiap jejak kata.

Akulah puisi. Lahir dari rahim kata-kata atas percintaanku dengan ayahku yang lantas melahirkan anakku, Anak Puisi.

“Selamat ya, Nak. Ayah bangga padamu. Kamu sudah menjadi ibu sekarang.”
“Makasih, Ayah!” ucapku.

Sebuah kecupan hangat mendarat di kening dan kedua pipiku. Pun bibirku. Aku makin erat memeluk Ayah. Entah, apa yang aku rasakan saat ini. Jantungku berpacu kencang. Seluruh sendi-sendiriku terasa lemas. Pelukan ini sungguh membuatku menjadi manusia. “Aku ingin menjadi ibu yang sesungguhnya.”

Tergeletak sebuah buku, hadiah ulang tahunku, buah percintaanku dengan ayahku, yang kini ada di atas mejaku. “Namaku Puisi.”

***

Jakarta, 1 Mei 2016

Biodata Penulis:

Handoko F Zainsam. Lelaki kelahiran Madiun 6 Oktober ini merupakan penggagas dan pendiri Komunitas Mata Aksara, CK Writing – Jakarta, dan menjadi salah satu pendiri Perhimpunan Sastra Budaya Negara Serumpun (PSBNS) 6 Negara. Karya-karyanya antara lain I’m Still A Woman—Tahun 2005 (Novel). Kota Sunyi Tahajud Cinta Kunang-Kunang—Tahun 2009 (Puisi); Ma’rifat Bunda Sunyi—Tahun 2010 (Puisi). “Love in Anomaly” Tahun 2013 (Kumpulan Cerita), “Suluk Nang! Ning! Nung!”— Tahun 2014 (Puisi), “Dua Tanda Kurung” (Novel)—Tahun 2016, “Risalah Suwung”—Tahun 2016(Puisi). Beberapa karya seperti esai, puisi, cerpen, dan opini juga terbit dalam beberapa judul buku dan juga dimuat di berbagai media massa.

Advertisement
Click to comment

TELERASI

Diskursus Konstruksi dan Citra Perempuan

SHUTTERSTOCK

Telerasi – Perempuan adalah sosok yang tidak pernah sepi dari pembicaraan manusia dari waktu ke waktu. Keberadaannya di tengah-tengah laki-laki senantiasa menjadi topik perbincangan yang hangat dan menarik. Ada yang membicarakannya dengan segala hal positif yang dimilikinya dan tidak jarang pula ada yang mengeluarkan pendapat dan pandangan mengenai beragam hal negatif yang mengitarinya. Seiring berjalannya waktu, pandangan yang ada pada masa tertentu mengalami perkembangan—bahkan tidak jarang perubahan—dibandingkan pada era lainnya.

Pembentukan Pandangan Tentang Perempuan

Ketika seseorang hendak menilai sesuatu, maka hal itu tergantung dengan latar belakang pengetahuan yang dimilikinya. Dalam konteks perempuan, maka perspektif yang dipakai adalah pengetahuan manusia tentang perempuan di kala manusia mulai untuk berpikir tentang hal tersebut. Pada awalnya, manusia memandang perempuan adalah makhluk Tuhan yang lemah di tengah kerasnya alam pada masa-masa permulaan kehidupan manusia. Hal ini muncul karena keterbatasan pengetahuan manusia saat itu dalam menilai sesuatu kecuali atas kebutuhan yang mereka hadapi.

Ketika umat manusia semakin berkembang dan tersebar kemana-mana dan seringnya terjadi beragam pertikaian dan peperangan, maka perspektif manusia mengenai perempuan semakin negatif. Perang yang melibatkan dua pihak yang bertikai tentu akan berakhir dengan salah satu pihak yang mengalami kekalahan. Pihak yang kalah tentu akan mengalami segala hal yang buruk, termasuk penawanan dan pemerkosaan terhadap istri dan anak-anak perempuan mereka.

Hal ini tentu menimbulkan aib yang tidak terkirakan bagi pihak yang kalah sehingga muncul anggapan di benak mereka bahwa perempuan tidak lain hanya akan menimbulkan keburukan bagi kelompok atau sukunya. Untuk menyebut sebagai contoh, di masa-masa pra Islam di kawasan Arab, beberapa kabilah membunuh anak-anak perempuan mereka dengan menguburnya hidup-hidup karena dikuatirkan menimbulkan aib keluarga dan sukunya kelak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pandangan yang mengemuka mengenai perempuan adalah berdasarkan atas pemenuhan kebutuhan yang dihadapi oleh manusia saat itu.

Pandangan-pandangan mengenai perempuan terus mengalami perkembangan hingga sampai ke era keragamanan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Ariestotle, misalnya, di era kejayaan Yunani menyatakan bahwa perempuan adalah sosok yang memiliki banyak kekurangan dan tidak berkualitas. Begitu juga dengan filsuf Thomas Aquinas yang meyakini bahwa perempuan adalah sosok yang tidak sempurna yang menteorikan bahwa laki-laki adalah superior, bersifat dewa, cerdas dan berbanding terbalik dengan perempuan yang imperior.

Sebuah ungkapan juga pernah mengemuka yang menyatakan bahwa perempuan tidak lain hanya sebagai tempat peranakan (tota mulier in utero) atau dengan kata lain bahwa perempuan tidak lebih sebagai tempat laki-laki menanamkan benihnya untuk dikembangbiakkan layaknya padi di ladang atau sawah. Ahli psikoanalisis, Freud, juga pernah berujar bahwa perempuan itu terbentuk dari kecemburuan penis. Beragam pendangan ini tentu berpengaruh terhadap banyak hal yang melingkupi hidup perempuan.

Karena dianggap sebagai manusia lemah dan tidak berdaya, maka lingkungan yang ‘layak’ bagi perempuan adalah lingkungan yang tenang dan aman. Tidak seperti ‘mitranya’ laki-laki yang berada dalam lingkungan yang relatif keras dan menantang, perempuan ‘hanya boleh’ berada dalam lingkungan yang nyaman, seperti di dalam rumah saja. Kalau pun dalam suasana perang perempuan diperbolehkan terlibat, maka ‘lahannya’ adalah mengurusi korban yang sakit atau terluka atau berada di garda belakang pada sektor logistik.

Kondisi seperti ini selanjutnya memunculkan tradisi yang menganggap perempuan hanya ‘layak’ berkutat pada wilayah domestik saja, yaitu mengurusi rumah tangga, mengasuh anak dan melayani suami. Karena hanya ‘dapat’ hidup dalam lingkungan yang aman dan nyaman dan berperan di wilayah domestik saja, maka tentu perempuan tidak membutuhkan banyak harta karena sudah menjadi tanggung jawab suaminya.

Hal ini tentu berdampak pada berkurangnya hak warisan bagi perempuan, dimana dalam Islam, misalnya, laki-laki mendapatkan dua bagian karena memiliki kewajiban nafkah bagi keluarganya, sedangkan perempuan hanya mendapatkan satu bagian saja. Dampak lainnya adalah pada agama dimana perempuan tidak mendapatkan porsi yang sama dengan laki-laki. Dalam agama Hindu, misalnya, perempuan tidak pernah akan diterima sebagai tokoh agama karena sebagai perempuan ia memiliki beragam ‘kelemahan’ seperti menstruasi yang dianggap sebagai kotoran. Dalam Islam juga ada larangan bagi perempuan untuk mendekati masjid dan melaksanakan salat ketika ia sedang menstruasi, bandingkan dengan laki-laki yang dapat melakukan apapun tanpa dibatasi oleh beragam aturan.

Perdebatan Citra Perempuan

Berdasarkan paparan di atas dapat diungkapkan bahwa pandangan mengenai perempuan mengemuka berdasarkan perspektif manusia untuk memenuhi kebutuhannya saat itu. Pandangan-pandangan ini di kemudian hari mewujud menjadi semacam tradisi atau budaya yang seakan sudah benar dan sah berlaku serta diikuti oleh segenap manusia, termasuk perempuan sendiri. Namun demikian, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran untuk menempatkan sesuatu pada porsinya yang benar, maka gugatan-gugatan atas ‘budaya’ tersebut pun bermunculan.

Menurut beberapa pihak yang sangat intensif melakukan kajian terhadap perempuan atau yang biasa dikenal dengan feminis, melihat perempuan harus berdasarkan pada konsep nature dan nurture. ‘Nature’ adalah pemberian Tuhan yang melekat secara alami pada diri perempuan, seperti rahim, menstruasi, melahirkan, menyusui dan sifat-sifat keibuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki, sedangkan ‘Nurture’ sesuatu yang berupa konstruksi budaya yang disematkan secara sengaja kepada diri perempuan oleh masyarakatnya, seperti lemah, bodoh dan tidak berkualitas. Dengan melihat konsep ini, maka pandangan mengenai perempuan akan menjadi lebih adil dan proporsional.

Secara biologis, laki-laki dan perempuan memang memiliki perbedaan yang signifikan. Laki-laki memiliki alat kelamin yang berbeda sama sekali dengan perempuan, begitu juga dengan kondisi fisik lainnya seperti dada dan lain sebagainya. Di samping beragam perbedaan tersebut, laki-laki dan perempuan sesungguhnya juga memiliki beragam persamaan yang tidak seharusnya menempatkan perempuan dalam posisi subordinat sebagaimana yang selama ini dilakukan.

Dalam bukunya ‘The Descent of Man’ Charles Darwin memang pernah mengungkapkan bahwa otak perempuan lebih kecil dari laki-laki sehingga laki-laki lebih cerdas, namun beberapa tahun kemudian terbukti bahwa hal ini tidak benar setelah Carl Degler melakukan penelaahan lebih lanjut. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan di Amerika juga membuktikan bahwa otak perempuan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan tidak kalah jika dibandingkan laki-laki. Hanya saja, karena budaya patriarkhi yang menempatkan perempuan pada wilayah domestik sehingga tidak banyak yang mendapatkan kesempatan menimba ilmu, maka beragam pengetahuan memang dikuasai oleh laki-laki.

Dengan demikian, kalangan feminis meyakini bahwa jika perempuan ditempa dan berada pada lingkungan yang sama dengan laki-laki, maka sesungguhnya ia akan dapat bersaing dan bahkan dapat mengungulinya. Beragam fakta sekarang memang membuktikan banyak perempuan yang berada pada posisi yang justru dianggap mustahil sebelumnya karena memang diberi ruang yang sama dan kebebasan untuk bersama-sama berkompetisi dengan laki-laki. Ada perempuan yang ahli nuklir, jenderal, ahli teknologi informasi, astronot dan bahkan pemimpin bagi masyarakatnya.

Sesuatu yang berupa ‘nature’ yang ada pada diri perempuan memang tidak dapat dihilangkan karena akan terus melekat sampai kapan pun. Tetapi sebaliknya, sesuatu yang berupa ‘nurture’ yang memang sengaja dilekatkan pada diri perempuan dapat dirubah dan dihilangkan. Hal ini karena sifat-sifat ‘nurture’ ini merupakan hasil dari konstruksi budaya yang ada pada masyarakat tersebut. Sifat bodoh atau tidak memiliki intelijensia, misalnya, yang disematkan kepada perempuan dapat dihilangkan dengan cara menempuh pendidikan yang sama sebagaimana yang dilalui oleh laki-laki. Sebaliknya, sifat ‘nature’ yang menjadi trademark perempuan justru menjadi keistimewaan dan karakteristik tersendiri, bahkan lebih jauh lagi menjadi senjata yang tak ternilai bagi perempuan.

Dengan memiliki sifat ‘nature’ ini, perempuan dapat melahirkan dan mendidik generasi manusia yang justru sangat berkualitas bagi keberlangsungan keturunannya di kemudian hari. Hal ini karena meskipun laki-laki dapat berperan sebagai pengasuh bagi anak-anak, namun tidak ada yang mampu menyaingi kepengasuhan dan kasih sayang seorang ibu.

Akhirnya, perspektif yang mengemuka mengenai perempuan merupakan hasil dari pengetahuan dan pemenuhan akan kebutuhan manusia. Berawal dari pandangan dan pemikiran, akhirnya berujud menjadi tradisi atau budaya yang mengkonstruksi beragam sifat yang kelak melekat pada perempuan. Berdasarkan kajian feminis, melihat sosok perempuan harus berkaca pada dua hal, yaitu nature dan nurture. Sifat yang pertama merupakan bawaan dan pemberian Tuhan yang melekat pada diri perempuan dan tidak dapat dihilangkan, sedangkan yang kedua merupakan konstruksi budaya yang sengaja dilekatkan serta dapat dihilangkan. Dengan menggunakan konsep ini, maka pandangan mengenai perempuan akan proporsional karena menempatkan perempuan pada posisi dan porsinya yang sebenarnya.


Oleh: Dr. Pahrudin HM, M.A. Dosen STISIP Nurdin Hamzah Jambi dan Direktur Eksekutif Public Trust Institute (PUTIN).

 

Continue Reading

TELERASI

Ketika Umat Beriman Menciptakan Tuhan

Antara/Ahmad Subaidi

Telerasi – Terus terang saya terprovokasi oleh judulnya. Ketika masyarakat agama di negeri ini dirasa banyak orang menguat konservatismenya (conservative turn) judul itu menjadi terasa sangat provokatif. Tapi mungkin itu memang tujuannya, agar orang tergerak untuk membaca, seperti saya. Secara kebetulan, dalam Kompas (Kamis, 3 September 2020, hal. 5) diberitakan tentang pidato pengukuhan guru besar pendidikan agama Islam UIN Syarif Hidayatullah yang juga Sekretaris Umum PP Muhamdiyah, Abdul Mu’ti, yang isinya menyarankan agar pelajaran agama Islam di sekolah perlu diperbaharui. Pembaharuan itu menurutnya dibutuhkan untuk memelihara pluralitas agama, membangun harmoni, perdamaian, kerukunan, dan persatuan.

Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan agama Islam semestinya tidak terbatas mempelajari masalah-masalah ritual ibadah dan muamalah dengan pendekatan klasik, tetapi juga harus dikembangkan sesuai dengan kontekstualisasi agama dengan kehidupan kekinian dan menjawab tantangan masa depan. Keprihatinan Abdul Mu’ti tentang pengajaran agama Islam yang dinilai telah membuat pemahaman tentang Islam, dan dengan demikian juga tentang Tuhan yang disembah orang Islam memiliki citra atau imaji tertentu, tampaknya sangat sejalan dengan pesan utama buku yang sedang saya baca ini (Ketika Umat Beriman Mencipta Tuhan, Gramedia Pustaka Utama, 2020)

Buku yang judulnya provokatif ini ditulis oleh Syafaatun Almirzanah, yang gelarnya berderet, Prof, MA, M.Th, PhD, D.Min; yang menunjukkan begitu banyak ilmu yang telah diserap dosen UIN Sunan Kalijaga ini. John L. Esposito, professor dari Georgetown University, di sebuah acara yang saya tonton melalui YouTube saat memperkenalkan Syafaatun menyebutnya sebagai akademisi hebat karena Syafaatun telah berhasil menggondol dua gelar doktor sekaligus. John L Esposito, ahli Islam yang mungkin paling terkenal dari Amerika Serikat itu juga yang memberi “sekapur sirih” dari buku ini.

Dalam sekapur sirih itu saya kembali menemukan kata “Godhead” – memang agak sulit diterjemahkan – yang sebelumnya disinggung oleh penulis buku dalam “pengantar edisi baru” ( tidak dijelaskan kapan dan di mana edisi lama terbit). Dalam sekapur sirih Esposito saya juga menemukan kalimat (dalam huruf tebal): Tuhan dalam konsep teologi dan Tuhan yang ada dalam doktrin adalah merupakan ciptaan umat beriman dan lembaga agama, digunakan sebagai konstruksi manusia dalam bahasanya yang terbatas, untuk menjelaskan sesuatu yang tak terbatas (hal. xv). Tentu Esposito menuliskan sekapur sirihnya dalam bahasa Inggris dan yang ada di buku ini pastilah terjemahannya. Tampaknya judul buku ini seperti menggunakan atau mendapat inspirasi dari sebagian kalimat Esposito di atas.

Masih di bagian depan, di pengantar edisi baru, saya juga menemukan bagaimana penulis buku ini merujuk pada pendapat beberapa ahli neurologi Amerika Serikat (Andrew Newberg, Mark Robert Weldman, Michele Shermer) ketika menerangkan bagaimana sebuah citra atau imaji, juga dalam hal ini tentang Tuhan, secara saintifik sebetulnya diproduksi oleh proses-proses neurologis yang bersifat biologis. Di akhir kata pengantar dikutipnya pendapat dari Dorothee Soelle (1995), seorang teolog Jerman, juga menarik: Tuhan yang tidak melebihi Tuhan bukanlah Tuhan. Tuhan yang terkungkung dalam suatu bahasa, dibatasi oleh definisi tertentu, dikenal dengan nama tertentu yang telah menghasilkan bentuk kendali sosio-kultural tertentu, bukanlah Tuhan tetapi telah menjadi suatu ideologi agama (hal xii).

Jadi, sejak dari judul, kata pengantar dan sekapur sirih, kita dibawa untuk membedakan antara dua macam Tuhan, “Tuhan yang kita ciptakan sendiri” dan “Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan yang tak mungkin terbayangkan oleh kita”. Bagi orang Jawa, terutama yang masih menganut Agama Jawa (Kejawen) Tuhan dikatakan sebagai “tan keno kinoyo ngopo”, sesuatu yang tak bisa dideskripsikan, undesribable. Buku ini, mulai bab pendahuluan sampai bab kesimpulan (6 bab), kita kemudian dibawa bertamasya untuk sampai pada sebuah taraf kesadaran tentang bagaimana kita “Berbicara tentang Tuhan tanpa berbicara untuk/atas nama Tuhan”. Perjalanan tamasya itu kita alami dengan menyelam memasuki riwayat dua orang mistikus besar yang dinilai dan dipilih oleh penulis buku ini telah mewakili dua peradaban agama besar dunia, Ibn al Arabi (Muslim, 1165-1240) dan Meister Eckhard (Kristen, 1260-1327).

Sebagai pembaca saya merasa bahwa penulis buku ini, seorang yang sebelum keluar negeri telah dididik dalam pendidikan agama Islam (IAIN Sunan Kalijaga), memang seorang akademisi tulen yang telah berjalan jauh, ke Chicago, belajar lama di dua lembaga pendidikan teologi Kristen; Catholic Theological Union – University of Chicago dan Lutheran School of Theology at Chicago.; sehingga meraih dua gelar doktor itu. Melalui penyelamannya terhadap kehidupan dan terutama karya-karya dua mistikus besar itu, Ibn al Arabi dan Meister Eckhard dia menemukan bahwa hanya melalui mistik sajalah manusia bisa menemukan Tuhan yang sesungguhnya (Godhead), bukan Tuhan seperti kita citrakan, Tuhan sebagaimana diciptakan oleh umatnya.

Tapi, setelah merambah isi bab-bab dari buku ini, terus terang judul buku ini, paling tidak bagi saya, meskipun agak sedikit mengecoh karena judul buku ini samasekali tidak menyiratkan bahwa pembaca nantinya akan dibawa ke persoalan dialog dan agenda (disebutnya sebagai matrix baru) untuk menjembatani persoalan hubungan Islam dan Kristen yang menurut penulisnya telah menemui jalan buntu (hal. xxix). Namun membaca baik-baik buku ini memang penulis secara cerdas memilih judul yang terdengar sebagai otokritik terhadap kaum agamawan dan umat beriman (the believers), namun sekaligus memang ingin mengajak pembaca melampaui batasan-batasan agama yang tidak saja dangkal tapi menyesatkan.

Jika melihat struktur buku ini (mungkin aslinya sebuah disertasi atau monografi dalam bahasa Inggris, tidak ada penjelasan tentang hal ini), terutama jika melihat pembagian daftar kepustakaan yang terbagi menjadi tiga kelompok besar (literatur tentang Ibn al Arabi, literatur tentang Meister Eckhart dan literatur umum), buku ini sebetulnya sebuah hasil dari studi kepustakaan (literature review). Kekuatan buku ini adalah pada keluasan dan kedalaman review literatur yang telah ditulis dengan sangat baik yang akan membuat pembaca betul-betul diajak bertamasya ke sebuah keindahan dan kekayaan khasanah sejarah peradaban Islam maupun Kristen melalui dua mistikus besar ini.

Penemuan atau usaha menemukan sebuah persamaan antara dua mistikus besar itu melalui riwayat hidup dan konteks sosial budaya dimana mereka hidup, yaitu sama-sama memilih jalan mistik sebagai cara yang harus ditempuh untuk mencapai kesadaran tentang Tuhan yang sebenarnya (Godhead). Yang kemudian menjadi menarik adalah penemuan lanjutan penulis tentang adanya sebuah keniscayaan keimanan tidak saja yang bersifat dialogis, namun semacam sintesis, antara Kristen dan Islam.

Penulis melalui kemampuan daya tafsirnya yang tinggi, kreatif dan imajinatif, sampai pada sebuah tawaran solusi atas ketegangan klasik antara Islam dan Kristen, secara teologis maupun dalam realitas sosial yang ada di masyarakat. Tentu tawaran yang dikemukan ini harus kita sambut dengan baik karena upaya-upaya rintisan masih sangat diperlukan tidak saja guna mencairkan ketegangan hubungan antar agama, tetapi juga, dan menurut hemat saya justru ini yang lebih penting adalah dalam memaknai apa itu hidup yang berketuhanan.

Apabila, setelah membaca buku ini, saya, paling tidak sebagai salah seorang pembaca yang pada awalnya sangat terprovokasi oleh bunyi judul yang dipilih, masih merasa ada beberapa hal yang terasa mengganjal, mestinya merupakan sesuatu yang wajar, tanpa mengurangi arti penting buku yang telah di-endorsed oleh para intelektual penting Muslim (Komaruddin Hidayat, Haidar Bagir, M. Amin Abdullah) maupun Kristen (Frans Magnis Suseno SJ, J.B. Banawiratma – penulis kata pengantar yang sangat membantu pembaca memahami posisi penulis dalam konteks studi agama). Paling tidak ada tiga hal yang masih terasa mengganjal di benak saya. Pertama, tidakkah setelah melalui jalan mistik sekalipun, kita sesungguhnya bisa saja masih belum benar-benar keluar dari ketersungkupan kita tentang citra dan imaji tentang Tuhan? Kedua, meskipun tampaknya trivial karena hanya disinggung sepintas, rujukan terhadap penjelasan para neurolog, hanya memperkuat pendapat bahwa bayangan kita tentang Tuhan adalah produk dari proses neurologis belaka?

Bukankah ini seperti setengah membenarkan pendapat biolog Richard Dawkins yang sangat kontroversial tentang apa yang digambarkannya sebagai “The God delusion”? Ketiga, dengan mengutip pendapat Dorothee Soelle, bahwa Tuhan yang diciptakan oleh umatnya dan telah menghasilkan bentuk kendali sosio-kultural tertentu, bukanlah Tuhan tetapi telah menjadi suatu ideologi agama, adalah realitas sosial yang hampir selalu kita temukan dalam agama apapun, di masyarakat manapun? Dalam kaitan ini, saya diam-diam setuju dengan tesis dasar penulis, bahwa hanya melalui jalan mistik sajalah memang kita secara teoretis (atau secara empiris buat yang benar-benar mempraktekkannya) akan terhindar dari jebakan agama sebagai ideologi. Tetapi saya menduga hanya segelintir orang yang bisa melakukan itu, dan itu sejalan dengan pendapat Karen Armstrong bahwa beragama sejatinya memang bukanlah sesuatu yang mudah, dan bukankah konon Tuhan juga telah mengatakan bahwa hanya segelintir orang yang akan benar-benar mencapai surga?


Oleh: Dr. Riwanto Peneliti independen. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku, dan tulisan populer.

 

Continue Reading

TELERASI

Nyadran, Tradisi dan Religi


Telerasi – Nyadran bukan hanya ritual lawas tanpa makna. Dialah sejatinya bukti kultural manusia Jawa memandang betapa pentingnya gundukan tanah berbatu nisan, sekaligus potret religi Nusantara pra-Hindu Budha. Seabad lampau, jurnalis koran Darmo Kondo sudah memberi perhatian lebih terhadap kuburan dengan menyerat sinonim tentangnya: kramatan, makaman, hastana, pasarean, lan jaratan.

Bila dipandang remeh, tak mungkin orang Jawa kala itu sibuk menciptakan dan memperkarakan sinomin tempat memendam jenazah. Terlebih lagi, setiap kuburan tua terdapat cikal-bakal yang diyakini sebagai pepundhen alias tokoh pendiri kampung.

Realitas Historis

Bukti tekstual yang lebih tua lagi, Bromartani (27 November 1873) merekam penggal kisah hastana Kedhung Kopi yang jaraknya sepelemparan batu dari bibir Bengawan Solo. Suatu hari, warga terkejut memergoki potongan tangan jasad manusia yang belum sepenuhnya masuk di tanah kuburan kaum kere (miskin) kota.

“Tiyang ingkang angajeni dhateng kamanungsan inggih lajeng mangretos yen pangubur kados makaten wau nama siya-siya sanajana kuburanipun kere pisan,” ujar juru warta sedikit geram bercampur sedih. Termaktub pesan mulia bahwa seluruh tubuh manusia yang dikebumikan haruslah dipastikan masuk, entah dari golongan kaya maupun melarat.

Setahun berikutnya, media cetak tertua di Solo tersebut menurunkan berita tradisi masyarakat Jawa yang bertemali dengan makam yang telah berlangsung berabad-abad.

“Kala ing jaman kina, kathah kemawon titiyang ingkang sami mumuja dhateng kakajengan, sela, kuburan tuwin sanes-sanesipun ingkang kaanggep gadhah daya pangawasa asuka begja cilaka,” tulis wartawan Bromartani (5 Maret 1874).

Mencuat sekeping fakta berharga bahwa sedari era kuno (prasejarah), kuburan sebagai tempat bersemayam ruh leluhur diyakini mengandung daya keberuntungan dan kemalangan, sering disambangi banyak orang.

Realitas historis yang berhasil didokumentasikan juru pena itu menjembarkan pemahaman masyarakat ‘zaman now’ bahwa kepercayaan dan penghormatan terhadap ruh nenek moyang merupakan agama asli di Nusantara. Kaum cerdik pandai membulatkan kenyataan ini dengan konsep animisme dan dinamisme. Para sarjana Barat menamai agama asli sebagai religion-magis, memuat nilai budaya yang paling mengakar dalam masyarakat Jawa.

Aneka Sesaji

Tiada muluk-muluk masyarakat Jawa klasik mengerek asa. Manakala ‘sembahyang’ dengan aneka sesaji atau membakar menyan, mereka cukup meminta agar anggota keluarga dilimpahi kesehatan, hidup tenteram lahir-batin, serta hasil pertanian bagus. Upaya pemenuhan pengharapan ini melahirkan mitos tentang dhayang dan baureksa yang bersumber pada kepercayaan animisme dan dinamisme sebagai wujud sistem religi. Dengan upacara selamatan dan tradisi nyadran, ruh nenek moyang di kuburan dianggap sebagai dewa pelindung dan ngemong keluarga yang masih hidup.

Serpihan pemikiran ini dapat dijumpai dalam jagad pewayangan bahwa ruh nenek moyang dipersonifikasikan dalam bentuk Punakawan. Wayang adalah produk kebudayaan India, sedangkan Punakawan asli buah pikir manusia Jawa yang memandang ruh leluhur sebagai pengayom.

Merangseknya pengaruh Hindu, Budha, Islam, serta kebudayaan India tidak serta merta menggusur kepercayaan asli yang tumbuh subur lewat gelaran upacara, cerita rakyat tentang manusia setengah dewa, dan juga mantra magis. Berarti, pernyataan JWM Bekker (1976) tidak sepenuhnya tepat. Ia berujar, agama asli sepanjang sejarah berulang kali mengalami krisis eksistensi. Kepercayaan lokal terancam survival saban kali didampingi agama-agama yang ‘impor’ dari luar negeri.

Nyata bahwa tradisi nyadran yang masih lestari itu merupakan bukti konkret tidak terjadi krisis animisme-dinamisme asli Jawa. Justru unsur Hinduisme dan Islam yang diserap, dipadukan dengan tradisi kejawen untuk memperhalus dan memperkaya tradisi. Semua ini berkat pendekatan kompromis dan akomodatif yang dijalankan pemuka agama cukup luwes. Di samping naluri kesejarahan warga lokal sendiri masih kuat untuk mengenang leluhur.

Oleh : Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Photo : ANTARA/Anis Efizudin
Continue Reading

Artikel Populer